Sabtu, 06 Juli 2024

Menyelami Budaya Lampung Lewat Rumah Informasi Budaya Kencana Lepus Sukadana

 

Rumah Informasi Budaya Lampung Kencana Lepus (Dok. Datu Purwonugroho)

Oleh:

Datu Purwonugroho

(Guru Sejarah SMAS Muhammadiyah 1 Sekampung Udik)


Minggu siang 2 Juni 2024 Bapak Datu Purwonugroho sebagai guru mata Pelajaran Sejarah di SMAS Muhammadiyah 1 Sekampung Udik, melakukan kunjungan ke Rumah Budaya Kencana Lepus yang ada di Sukadana, ibukota Kabupaten Lampung Timur. Dalam kunjungan tersebut disambut langsung oleh pewaris dan pemilik Rumah Budaya Kencana lepus yaitu Hj. Uzunuhir Spd, bergelar Suttan Lepus. Beliau sangat ramah serta antusias menjelaskan secara detail seluk beluk dari benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Rumah Budaya Kencana Lepus tersebut serta menjelaskan sejarah suku Lampung dan kebudayaannya khususnya Lampung Timur.

Rumah adat tradisional ini didirikan pertama kali ketika zaman Minak Rio Kudu Islam dan rumah adat pertama kali di Desa Sukadana pada tahun 1650 M, dan tahun 1820 M keturunan Minak Rio Kudu Islam yang Bernama Ubay ( H. Abdullah Akbar Dalem Bala Seribu ) membuat rumah baru yang disebut (bertipe) “Gajah Meghem”. Pada tahun 1940 M rumah tersebut di rehabilitasi karena sudah sangat tua dan using. Bahan pembangunan rumah informasi ini terbuat dari kayu dan tidak berpaku dan beratapan genteng berasal dari Palembang. Alhamdulilah saat ini masih terjaga, berkat usaha dan kecintaan kepada benda-benda kuno tersebut Hj. Uzunuhir selalu meluangkan waktu untuk merawatnya walaupun usia sudah tidak muda lagi yaitu 86 tahun semangatnya perlu di contoh untuk generasi muda gen z saat ini.


Rumah Informasi Budaya Lampung Kencana Lepus tersebut merupakan pendukung utama keberadaan Museum Lampung sebagai tempat pelestarian benda-benda sejarah khususnya di Provinsi Lampung. Dari itulah pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan sebagai rumah cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang. Koleksi-koleksi yang ada di dalam rumah budaya tersebut adalah sebagian peninggalan dari zaman Minak Rio Kudu Islam sampai sekarang dan ditempati oleh keturunanya yang ke 13 yaitu Sultan Kencana. 

Sejak Suttan Kencana masih hidup (kini telah wafat) penambahan rumah informasi ini ke arah kelengkapanya terus diupayakan untuk menambah koleksi- koleksi yang ada seperti:


Dalam momen pringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2024 ini, kunjungan dan penggalian kesejarahan sangat penting sekali dalam menambah wawasan kita untuk mengetahui kebudayaan dan sejarah bangsa khusus sejarah daerah lokal.  

            Semoga dalam kunjungan ini bisa menambah kesadaran kita  dan anak anak didik kita, kebanggaan akan sejarah bangsa, jangan sekali kali meninggalkan sejarah (Jasmerah) itulah kata kata yang sering diucapkan oleh sang Proklamator bapak bangsa Ir. Soekarno. Sekali lagi penulis mengucapkan selamat hari lahir Pancasila yang di gali dari falsafah hidup nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu dan terbukti sampai hari ini,  menjadikan kita kuat, bersatu, adil dan makmur Seperti yang tertera pada kaki burung garuda yang mencengkram erat pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.


Festival Putri Nuban dalam Lintasan Sejarah Kota Metro

 




Festival Putri Nuban (Sumber: Monitor Ekspres)

Oleh:

Drs. SETIO WIDODO, M.M

(Guru SMA Negeri 1 Pekalongan,  Ketua MGMP Sejarah SMA  Lampung Timur)

 

Abstraksi

Perkembangan kota Metro tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan Hindia Belanda dengan Program Kolonisasinya untuk penyebaran penduduk dan perbaikan ekonomi serta keiklasan dari Buay Nuban yang memberikan tanah ulayatnya untuk kegiatan Kolonisasi. Ungkapan suka cita dan mengagungkan perempuan seperti yang telah diwariskan dari Suttan dan Pesirah adat Buay Nuban  Ratu Dipuncak dengan memiliki 3 orang putra dan satu orang putri, karena kecintaannya kepada putrinya. Maka untuk mengingat dan rasa syukur itulah Festival Putri Nuban menjadi agenda bagi kota Metro hingga kini.

 

1.     Sejarah Awal

Jika kita menelusuri lebih jauh berkaitan dengan keberadaan Kota Metro, yang merupakan Wilayah  dari Propinsi Lampung dahulu adalah bagian dari Sumatera Selatan. Masing masing daerah  dikendalikan oleh seorang Pesirah (dalam Bahasa Belanda di sebut Margahoofd) merupakan kepala Pemerintahan Marga yang memiliki wewenang memerintah beberapa desa.  Istilah Pesirah dalam perjalanan wilayah Sumatera Selatan sepertinya masih digunakan hingga tahun 1970 an  hingga berdirinya Lampung menjadi Provinsi sendiri  terpisah dari Sumatera Selatan. Metro adalah sebuah daerah Kolonis yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah Kolonial dan menjadi bagian perkembangan kota mandiri yang sangat kental berhubungan dengan keberadaan Marga Buay Nuban.

 

Kota Metro adalah kota kedua di Provinsi Lampung setelah Kota Bandar Lampung. Kota yang dikenal sebagai kota kolonis ini, sekarang menapaki usianya yang merangkak dewasa Di Provinsi Lampung, nama “Metro” sangatlah populer, khususnya bagi warga Lampung yang merupakan keturunan para kolonis dan transmigran. Ya, Lampung sejak zaman kolonial terpilih menjadi daerah penempatan para migran Jawa, dan tercatat selalu menunjukkan keberhasilan pembauran masyarakatnya. Berdasarkan catatan sejarah, Metro mulanya merupakan sebuah wilayah hutan adat milik Buay Nuban, yang oleh pemerintah kolonial sejak tahun 1932 direncanakan sebagai bagian dari lokasi pelaksanaan proyek pemindahan penduduk Jawa dalam skala besar, yang diberi nama Kolonisasi Sukadana yang dibuka tahun 1935. Diberi nama demikian, karena secara administratif berada dalam wilayah Onderafdeeling Sukadana yang beribukota di Sukadana.

 

Sebagai putra daerah yang dilahirkan di Lampung Timur, berupaya mencara sumber berita yang unik dan langka  yang bisa mencoba memberikan khasanah literasi untuk anak negeri khususnya pegiat literasi yang ada di Lampung. Sangat sedikit sekali generasi muda Metro atau Lampung pada umumnya untuk mencoba mengangat literasi kebudayaan yang menjadi menarik untuk disajikan agar diketahui oleh generasi berikutnya. Jangan sampai kita lupa bahwa akar budaya itu akan terpelihara dengan baik jika para pemuda dan masyarakat dimana tinggal selalu berupaya untuk melestarikannya. Pencarian identitas adalah kisah prima, tema dasar yang kemudian menjadi ilham bagi segenap mitos dan dongeng yang ada di setiap peradaban di muka bumi ini. Identitas adalah ontologi, yang kemudian menjadi akar bagi arah dan kecenderungan pertumbuhan organis, baik bagi manusia, kultur, bahkan bagi sebuah kota. Identitas adalah rumusan yang sederhananya harus ditemukan untuk menjawab pertanyaan dasar dari mana dan mau ke mana? karena itu, usaha menggenapi sebuah identitas menjadi penting, jika tak dikatakan menjadi sangat-sangat penting karena jika tidak ada yang mencoba untuk menggali lebih lanjut siapa lagi yang akan melestarikan khasanah budaya yang sangat menarik ini (AhmadMuzzaki.Tumbai.com).  Sebab orientasi dan aksi dalam bentuk apa pun yang tak beranjak dari akarnya, dari pengenalan akan identitas dirinya, hanya akan menghasilkan bunga atau buah yang masam. Secara biologis, bunga atau buah hanya akan muncul dari batang yang akarnya tertanam erat di bumi. Jika akarnya tercerabut, maka sang pohon akan tumbang. Demikian pula halnya dengan sebuah kota. Jangan sampai kekayaan budaya kita tempo dulu hilang dan musnah begitu saja, dengan ketidak pedulian kita, keengganan kita untuk mempelajari, keengganan kita untuk menelusuri dan kesombongan kita akan pesatnya peradaban yang justru akan menggerus nilai nilai budaya kita jika kita sendiri yang tidak menjaganya. Kita adalah orang Lampung yang lahir dan besar di Lampung, khususnya diwilayah Lampung Timur dan Kota Metro sudah seharusnya mencoba menggali kearifan lokal yang dimiliki wilayah ini tempo dulu.

 

Secara historis dan geografis awal terbentuknya kota Metro tak lepas dari penyerahan hak tanah ulayat Marga Nuban pada pemerintah Hindia Belanda yang menjadi penguasa wilayah Metro pada waktu itu, yang ingin menggali dan mengembangkan potensi yang ada, untuk mengali kembali fakta-fakta sejarah pada saat itu tentang peran masyarakat Lampung pada awal terbentuknya kota Metro, serta untuk menemukan akar budaya lampung yang bisa dianggap sebagai “budaya lokal” dalam pengembangan budaya tradisional masyarakat Lampung di kota Metro, dalam hal ini karena adanya kesenangan penulis untuk mencoba mengungkapkan beberapa keterangan menelusuri identitas Kota Metro amatlah berharga. Pertama, karena masyarakat mendapatkan informasi yang tergolong langka, meski sesungguhnya tidak baru. Penulis yakin banyak tulisan tulisan dari pegiat sejarah dan pegiat budaya  tentang perkembangan kota Metro ini. Tulisan ini bukan sebagai buku pertama yang mencoba melacak identitas Kota Metro secara kultural—hal yang selama ini luput dari banyak perbincangan, baik akademisi maupun percakapan sambil lalu di warung kopi. Kedua, proposisi penelusuran ini yang mencoba melacak identitas kultural Kota Metro tempo dulu yang  kiranya akan memberikan perspektif baru bahkan kearifan baru bagi pembuat kebijakan, pemerintah, tokoh adat, alim ulama dan masyarakat Metro, juga bagi masyarakat Lampung pada umumnya untuk melihat identitas daerahnya bukan sebagai sesuatu yang definitif, final, terlampau sakral—dan karena itu menjadi stagnan. Tulisan ini secara eksplisit menjelaskan asal-asul sebuah kota yang merupakan buah dari konstruksi kultural, politik, ekonomi, bahkan ekologis—bukan sebuah kota yang dari sono-nya terberi dan muncul begitu saja dari ruang kosong perjalanan  sejarah. Dalam catatan sejarah, Pesirah yang memasukan warga dari Jawa sebelum Kolonisasi. Lokasinya terkenal dengan sebutan 32. Bukan bedeng 32 tetapi terjadi di tahun 1932 yakni masyarakat di Jojog Swadaya, atau lebih dikenal dengan istilah kolonisasi Rancang Purwo yang merupakan bagian dari kewedanan Sukadana. Yang semua itu nantinya tersebar di berbagai wilayah yang disebut bedeng atau distrik untuk menandai kedatangan dan kelompok masyarakat yang datang dari pulau Jawa. Dalam hal ini Pesirah berjasa karena beliau yang mengijinkan wilayah hak ulayat Marga Nuban digunakan untuk Kolonisasi seperti yang diminta oleh pemerintah Belanda saat kolonial yakni Punggur,Metro,Batanghari.(https://eprints.ummetro.ac.id/).

 

Dalam Perkembangannya  Metro dibangun bukanlah dari semacam kekosongan kultural. Perencanaan yang matang karena adanya keberagaman yang tinggi Kota yang dibangun oleh kebijakan geopolitik pemerintah kolonial yang apik dan kearifan lokal dari masyarakat adat Kebuayan Nuban. Metro adalah sebuah kota yang sedari awal menyusun dirinya dengan semangat kebersamaan. Semua telah dirancang oleh pembuat keputusan pemerintah Belanda yang menginginkan masyarakat yang teratur dan dinamis. Para petani Jawa datang, meski motif utamanya adalah mencari penghidupan yang lebih baik, dengan membawa spirit kebersamaan dan juga membangun kota dengan semangat dan tekad yang sama, mereka membaur dengan penduduk setempat. Sementara itu, masyarakat adat dari Buay Nuban juga memberikan dan mengikhlaskan tanah mereka didiami para petani Jawa tersebut dengan berlandaskan semangat kebersamaan yang besar pula. Bila harus disimpulkan secara singkat—Kota Metro dibangun oleh tiga kekuatan besar; kebesaran hati masyarakat Buay Nuban, tekad dan kerja keras untuk maju bersama-sama para petani Jawa, serta ketertiban administratif dan visi geopolitik pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang ingin merubah tatanan ekonomi masyarakat Jawa, terlalu padat, ancaman kemiskinan dan konflik ekonomi yang setiap saat bisa pecah karena himpitan dan tekanan social factor sulitnya mencari penghidupan.

 

Dalam tulisan sederhana ini penulis menciba sedikit mencari tahu dan pemahaman bahwa ada kesepakatan kultural yang menjadi akar identitas Kota Metro. Bahwa Metro bukanlah semacam pulau baru dengan penduduk yang mayoritas bersuku Jawa, yang tergeletak begitu saja di tengah belantara hutan sumatera. Bahwa Metro bukanlah benteng yang identitas dirinya steril dari pengaruh identitas lain. Metro itu sebuah daerah yang dinamis berkembang untuk terus menata diri  bahwa Metro adalah semacam entitas yang dirinya terbentuk dari simbiosis dua kultur besar, Buay Nuban dan Jawa. Jika kita bayangkan bahwa visi sebagai “kota pendidikan” adalah identitas ideal yang coba diwujudkan Kota Metro, maka kesepakatan kultural yang terjalin antara Buay Nuban dan petani Jawa di awal pendirian Kota Metro adalah identitas primal, akar, di mana semua elan vital, gizi, dan orientasi hidup bersumber dan terarah ke visi “kota pendidikan” tersebut. Sederhananya identitas ideal sebagai “kota pendidikan” tersebut jangan digerakkan semata oleh kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis, tapi harus juga menimbang secara maksimal perhitungan-perhitungan sosial dan kultural dalam gerak langkahnya. Kearifan Lokal keragaman budaya dan keselarasan hidup bersama menjadi dasar langkah kota Metro menjadi seperti sekarang.(Ahmad Muzzaki.dalam Ari Pahala Hutabarat. Tumbai.Com).

 

2.     Kolonisasi dan Perkembangan Kota Metro

Sukadana dalam ejaan lama (Soekadana) merupakan onderdistrik dari distrik Lampung. Pengembangan kolonisasi Sukadana tidak lepas dari kolonisasi tahap sebelumnya, tahap percobaan Kolonisasi Gedong Tataan 1905. Sebagai pendahuluan, upaya penempatan kolonisasi dari pulau jawa diselenggarakan kolonisasi skala kecil yang kemudian diberi nama Kolonisasi Gedongdalam/Kolonisasi Rancangpurwo tahun 1932 untuk persiapan lanjutan dimulainya Kolonisasi Sukadana tahun 1935

Kolonisastieproof di Hindia Belanda dilaksanakan oleh suatu komisi yaitu Central Commisie Voor Emigratie en Kolonisatie Van Imheemsen (Komisi Pusat Emigran dan Kolonisasi Pribumi) (Alibasya, 1981:113). Di wilayah Kota Metro sekarang, pasca penempatan penduduk di Desa Trimurjo oleh para kolonis yang termasuk dalam Kewedanaan Sukadana, yaitu Marga Unyi dan Buay Nuban, dewan menyepakati agar wilayah kolonisasi tersebut dibebaskan dari status milik marga.

Kebijakan yang diambil tentu mempetimbangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk para kolonis dan kegagalan sistem kolonisasi pada tahap pertama menjadi evaluasi untuk tahap berikutnya. Kolonisasi Sukadana yang dipersiapkan dengan penuh pertimbangan, menggunakan sistem baru pada pelaksaannya yaitu dengan system Bawon dan pola kehidupan terpisah dari marga dengan perkembangan penduduk yang pesat   hingga menjadikan Metro sebagai ibukota Kolonisasi Sukadana. (Algemeen Handelsblad, 1935).

Untuk kelancaran dan kesuksesan program ini, pemerintah Belanda melalui seorang kontrolir yang memimpin onderafdeeling Sukadana melakukan persiapan negosiasi dengan pihak masyarakat pribumi (Kuswono et al., 2020).  Dalam majalah Van Woensdag, yang terbit pada 29 December, 1937, mewartakan bahwa penduduk asli Lampung pada umumnya sangat menyukai hasil pekerjaan dari para kolonis dari Jawa. Mereka sangat senang melihat hasil pekerjaan yang dilakukan orang-orang Jawa dalam mengerjakan dan mengolah sebidang tanah. Sampai-sampai mereka berfikiran, tidak ada tenaga kerja lagi, kecuali hanya orang-orang Jawa. Dalam waktu paceklik, para kolonis mendapat bantuan dari pemerintah untuk penghidupannya (Sjamsu,1960).

Kolonisasi Sukadana yang dibuka 1934 atau 1935 sengaja dipisahkan oleh marga asli Lampung hal ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan kolonisasi dengan kata lain kolonisasi yang masih dimasukan kedalam hubungan marga kurang berhasil. Selain itu wilayah kolonisasi Sukadana merupakan hutan adat milik marga Buay Nuban yang bukan daerah pemukiman padat peduduk.

Dalam pelaksanaannya pemerintah kolonial harus hati-hati karena harus berhadapan langsung dengan masyarakat pribumi Lampung. Lahan yang dibuka kemudian diberikan untuk para kolonis adalah lahan milik Dewan Marga yaitu Marga Buay Nuban (Rookmaker, 1937). Negosiasi yang dilakukan ditingkat daerah antara pemerintah kolonial dan wakil marga yang bersangkutan, menentukan batas pengembangan penempatan kolonis, dan marga-marga menyerahkan banyak lahan yang luas dengan hati terbuka. Dalam surat kabar De Sumatra post, yang terbit 22 September 1935, memberitakan Karena perkembangannya yang pesat maka dibangunlah sebuah induk desa baru pada tahun 1935 yang diberi nama Trimurjo.

Kolonisasi Sukadana mempunjai 60 kelurahan. Masing-masing kelurahan mempunyai 1 atau lebih bedeng. Dan diusahakan supaya tiap kelurahan berpenduduk kira-kira 500 keluarga (De Indische Courant, 1936). Bedeng merupakan nama pemukiman yang orang akan menyebutnya desa di Jawa. Karena desa ini belum memiliki nama, mereka menggunakan angka untuk membedakannya, tetapi penduduk sudah tahu betul dimana nomor tempat tinggal mereka sendiri. Wilayah-wilayah bedeng dari bedeng 1-70 kemudian diresmikan menjadi desa-desa dan diberikan nama selain sebutan angka yang melekat hingga saat ini.

Trimurjo merupakan cikal bakal berdirinya Metro karena perkembangannya yang pesat maka pada hari Rabu 9 Juni 1937 pemerintah Hindia Belanda menetapkan Metro sebagai pusat administrasi kolonisasi Sukadana, tepatnya di bendeng 15 Iring Mulyo (Kuswono et al., 2020). Disaat waktu bersamaan diresmikanya tugu “Rookmaker” yang menandakan berdirinya Metro sebagai ibukota kolonisasi Sukadana yang telah dipisahkan dari kewedanaan Trimurjo, didirikannya tugu “Rookmaker” bertujuan untuk mengenang keberhasilan Rookmaker dalam kolonisasi Sukadana, dan pada tahun 1937 adalah akhir dari masa jabatan Rookmeker sebagai Residen Lampung. Disiang harinya mereka melakukan pesta untuk merayakannya. Momen tersebut di dokumentasikan dalam foto yang tersimpan di Tropenmuseum Amsterdam, Belanda.

Nama Metro diambil dari kata Mitro, H.R Rookmaker memberikan semangat untuk perkembangan wilayah tersebut. Metro baginya adalah awal dari "Metropolis" dan seseorang pasti dapat merasakan apa yang menjadi pandangan dari Rookmaker tersebut. Orang jawa jelas tidak dapat mengucapkan secara benar kata “Mitro” yang berarti teman ini. Mereka lebih fasih dengan kata “Metro” (Soebarijasch Handelsblad, 1938).

3.     Asal mula nama kota “Metro”

Kedatangan kolonis pertama di daerah Metro yang ketika itu masih bernama Trimurjo adalah pada hari Sabtu, 4 April 1936 dan untuk sementara ditempatkan pada bedeng-bedeng yang sebelumnya telah disediakan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada hari Sabtu, 4 April 1936 kepada para kolonis dibagikan tanah pekarangan yang sebelumnya memang telah diatur. Setelah kedatangan kolonis pertama ini, perkembangan daerah bukaan baru ini berkembang demikian pesat, daerah menjadi semakin terbuka dan penduduk kolonis-pun semakin bertambah, kegiatan perekonomian mulai tumbuh dan berkembang.
Pada hari Selasa, 9 Juni 1937 nama Desa Trimurjo diganti dengan nama Metro, dan karena perkembangan penduduknya yang pesat, maka Metro dijadikan tempat kedudukan Asisten Wedana dan sebagai pusat pemerintahan Onder District Metro. Sebagai Asisten Wedana (Camat) yang pertama adalah Raden Mas Sudarto. Penggantian nama Desa Trimurjo menjadi Desa Metro, karena didasarkan pada pertimbangan letak daerah kolonisasi ini berada ditengah-tengah antara Adipuro (Trimurjo) dengan Rancangpurwo (Pekalongan).
(https://dprd.metrokota.go.id/konten-sejarah_kota_metro.html).

Metro bermula dari dibangunnya sebuah Induk Desa Baru yang diberi nama Trimurjo. Pembukaan Induk Desa Baru tersebut dimaksudkan untuk menampung sebagian dari kolonis yang telah didatangkan sebelumnya dan untuk menampung kolonis kolonis yang akan didatangkan selanjutnya.

Mengenai nama Metro, bermaksud adanya jaringan kekeluargaan berasal dari kata “Mitro” yang artinya keluarga, persaudaraan atau kumpulan kawan-kawan. Adapula yang mengatakan Metro berasal dari “Meterm” (Bahasa Belanda) yang artinya “pusat atau centrum” atau central, yang maksudnya merupakan pusat/sentral kegiatan karena memang letaknya berada di tengah-tengah. Kolonis yang lain mengatakan Metro mempunyai artian ganda, yaitu saudara /persaudaraan dan tempat yang terletak ditengah-tengah antara Rancangpurwo (Pekalongan) dan Adipuro (Trimurjo).(Soebarijasch Handelsblad, 1938).

Pada bagian lain pada jurnal Ath-Tariq, vol 5, 01 januari-Juni 2021 menyebutkan “Kota Metro adalah salah satu kota di Provinsi Lampung, berjarak 52 km dari Kota Bandar Lampung (ibu kota provinsi). Menilik dari sejarahnya, versi pertama nama Metro berasal dari kata “Meterm” dalam bahasa Belanda yang artinya “pusat" yang artinya di tengah-tengah antara Lampung Tengah dan Lampung Timur, bahkan di tengah (center) Provinsi Lampung. Versi kedua, nama Metro berasal dari kata "Mitro"(bahasa Jawa) yang berarti teman, mitra, kumpulan. Hal tersebut dilator belakangi dari kolonisasi yang datang dari berbagai daerah di luar wilayah Sumatera yang masuk ke daerah Lampung. Dengan berdirinya sebuah landmark berupa menara yang dinamakan Menara Meterm (Meterm Tower) yang berada di Taman Merdeka, Alun-Alun Kota Metro menunjukan bahwa penamaan kota Metro merujuk pada versi pertama.

Munculnya istilah mitro yang kemudian menjadi istilah “Metro” baru muncul pada pemberitaan surat kabar tentang Kolonisasi Sukadana pada Desember 1937. Artinya satu tahun setengah sejak kedatangan kolonis pertama di bedding 15. Barangkali nama ini muncul sebagai bentuk ekspresi lisan masyarakat kolonis yang kesulitan dalam pelafalan kata “Metro”, sebab bahasa Jawa tidak memiliki kosa kata atau istilah ini. Atau sangat dimungkinkan kemunculannya sebagai bentuk pemaknaan ulang dari nama “Metro” yang telah ada sejak sebelum kedatangan mereka. Para kolonis Jawa berupaya membentuk makna baru untuk kata “Metro” yang menurutnya dapat didekatkan dengan istilah mitro yang dianggap lebih dekat dan familiar dengan kehidupan mereka yang masih serba sulit dan hanya dapat bertahan jika saling bantu membantu, menjalin pertemanan, dan persaudaraan. Dengan begitu nama “Metro” yang mulanya terasa asing bisa lebih mudah diterima dan menjadi bagian dari identitas kolektif dari diri mereka para kolonis Jawa.(Kian Amboro, Beranda desa.com asal usul nama Metro).

Keinginan untuk menjadikan Kota Metro sebagai Daerah Otonom bermula pada tahun 1968, kemudian berlanjut pada tahun 1970/1971 ketika Panitia Pemekaran Dati II Propinsi Lampung merencanakan untuk memekarkan 4 Dati II (1 Kotamadya dan 3 kabupaten) menjadi 10 Dati II (2 Kotamadya dan 8 Kabupaten). Harapan yang diinginkan itu akhirnya terpenuhi dengan diresmikannya Kotamadya Dati II Metro (sekarang dengan nomenklatur baru disebut Kota Metro) berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1999 pada tanggal 27 April 1999 oleh Menteri Dalam Negeri (Letjen TNI Syarwan Hamid) di Plaza Departemen Dalam Negeri Jakarta, bersama-sama dengan Kabupaten Way Kanan dan Kabupaten Lampung Timur.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 11 Tahun 2002, ditetapkan tanggal 09 Juni 1937 sebagai Hari Jadi Kota Metro.

4.     Festival Putri Nuban dan Kearifan Lokal

Kalau ingin melihat Indonesia secara keseluruhan tidak harus kita pergi ke Jakarta atau ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tetapi cukuplah kita berkunjung ke Kota Metro, yang wilayahnya asri, sejuk dan menyenangkan. Untuk mengingatkan kerja sama yang baik antara para pesirah (kepala Marga) dengan penduduk Kolonis sudah selayaknya beberapa budaya dan kearifan lokal seperti Festival Budaya, Kirab Budaya dan Festival Putri Nuban terus untuk di galakkan dan disosialisasikan ke masyarakat sehingga kalau bukan kita siapa lagi yang harus mencoba untuk mengajak masyarakat berliterasi.

Festival Budaya Putri Nuban diselenggarakan dalam rangka menumbuhkan kecintaan generasi muda akan pentingnya pengembangan budaya Lampung dan budaya lokal lainnya yang hidup di Kota Metro. Berfungsi sebagai sarana hiburan dan bingkai persatuan antar sesama warga Kota Metro yang terdiri dari beragam suku. Festival Putri Nuban (FPN) adalah perayaan yang menggabungkan keindahan seni, sejarah, dan kebudayaan. Dikenalkan sejak tahun 2013, FPN menjadi bagian integral dari perayaan hari ulang tahun Kota Metro. Nama "Nuban" sendiri mengandung makna mendalam, merujuk pada keresidenan/marga yang memberikan sebagian wilayahnya kepada kolonis pada masa penjajahan. Festival ini tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sebuah penghormatan terhadap warisan sejarah dan kebudayaan. Pada festival Putri Nuban biasanya  ada acara sesembahan tarian kolosal Sebuai yang menggambarkan peristiwa Putri Nuban dan mencerminkan 9 Kebuaian Lampung Siwo Megoh. Festival budaya tahunan merupakan upaya menghidupkan kembali ingatan sejarah ini, bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Lampung.

Keunikan Indonesia sendiri berasal dari adat istiadat, tradisi, dan kearifan lokal yang ada di Indonesia. Bukan hanya satu, setiap daerah bahkan memiliki kearifan lokalnya masing-masing.Kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepkan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang baik, dan memuat hal-hal positif. Kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan mendalam, tabiat, bentuk perangai, dan anjuran untuk kemuliaan manusia. Penguasaan atas kearifan lokal akan mengusung jiwa mereka semakin berbudi luhur.
Haryati Soebadio berpendapat bahwa kearifan lokal adalah suatu identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Menurut Rahyono (2009:7) kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.

Dari begitu banyak daerah yang berada di propinsi lampung, adalah Kota metro memiliki motto “Bumi Sai Wawai” bermakna Tanah yang Indah. Kota Metro merupakan daerah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai macam suku- suku, dan mayoritas suku yang terbanyak adalah Suku Jawa. Mata pencarian mereka berasal dari bidang pertanian, pendidikan, usaha pembuatan Batu Bata serta wirausaha lainnya, Sikap toleransi dan saling menghormati masyarakat yang tinggal di kota metro menjadi ciri khas dan falsafah hidup masyarakat kota Metro ditenggah Isu kekerasan dan permusuhan di daerah yang lainnya. sehingga menjadi sangat menarik untuk dituliskan menjadi literasi yang bisa dijadikan masukan masyarakat dalam bersosial, hal ini dapat terlihat dari masyarakatnya yang begitu bersahaja, jauh dari sikap kekerasan serta saling menghormati. dan juga pola interaksi masyarakatnya yang mengunakan bahasa jawa, Indonesia dan lampung.

5.     Kecintaan terhadap Keagungan Perempuan

Masyarakat Lampung yang bersifat Patrilineal, artinya menarik garis keturunan kebapakan, sangat mementingkan seorang anak laki-laki dalam anggota keluarganya sebagai penerus keturunan. Sebuah keadaan khusus, dimana dalam sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, dimungkinkan melakukan pengangkatan anak melalui perkawinan adat semanda (ngakuk ragah). artinya perkawinan ini terjadi dikarenakan sebuah keluarga hanyamempunyai anak wanita, maka anak wanita itu mengambil pria (dari anggota kerabatnya ataupun diluar kerabatnya) untukdijadikan suami dan mengikuti kerabat isteri untuk selama perkawinan

Guna menjadi penerus keturunan pihak isteri. Istilah adat Lampung untuk anak angkat tersebut disebut “anak Mentuha”. Secara adat anak tersebut akan terputus hubungannya kepada orang tua kandungnya, secara adat dan secara pribadi, akan tetapi secara hukum agama dan hukum nasional, pemutusan hubungan itu tidak terjadi. (Rosellina, 2008, 84).

Ada juga yang menceritakan tentang mengapa diadakan Festival Putri Nuban, karena adanya kecintaan seorang  Pesirah dari Buay Nuban (Ratu Dipuncak) yang  memiliki tiga anak laki laki, dan satu anak perempuan.karena hanya satu satunya putri dari ketiga kakak laki lakinya maka rasa cinta itu ditujukan kepada putrinya (Putri Nuban) dan penghargaan terhadap kedudukan perempuan dalam keluarga. (Hilman Hadikusuma, 1992)

Anak angkat adat yang telah diambil guna dijadikan suami dari keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki tersebut, dalam hal penggunaan dan menikmati harta warisan memiliki kedudukan yang seimbang dengan istri, tetapi tetap saja kedudukan suami berada di pihak istri, sehingga dalam melakukan perbuatan hukum antara suami dan istri. menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan ini dikarenakan pengaruh istri dan keluarganya lebih besar, suami dianggap sebagai pembantu pelaksana, hanya dianggap sebagai penerus keturunan hingga mendapatkan anak laki-laki. (Rizani Puspawijaya, anggota MPAL, dalam Atiansya Febra 2015).

Namun pada marga Buay Nuban hal itu tidak terjadi karena mereka saat itu memiliki anak laki laki, dan satu perempuan (Nuban), karena kecintaannya terhadap perempuan dan kecintaannya terhadap anak gadisnya, adik perempuannya maka festival ini mungkin juga berawal. Disinilah dapat dilihat bawah Marga Buay Nuban sangat menghargai perempuan sangat menjunjung tinggi harkat dari perempuan, yang dalam perkembangan pembangunan sekarang dilakukan oleh Kota Metro untuk sebuah Festival, selain untuk hiburan rakyat dengan penampilan berbagai budaya ini juga merupakan upaya untuk terus melestarikan nilai nilai budaya yang dimiliki oleh marga Buay Nuban dan ucapan terima kasih atas perkembangan kota ini yang diberikan oleh marga Nuban untuk perkembangan sebuah kota kolonis yang bernama Metro hingga saat ini.

Sang Pesirah  Ratu Dipuncak memiliki tiga anak laki laki, dan satu putri kemudian kecintaan itu diwujudkan dengan kegiatan untuk putri kesayangannya yang sekarang lebih dikenal dengan Fesitival Putri Nuban. Atau juga adanya penghormatan kepada perempuan dari pesirah/Suttan terhadap kedudukan perempuan hal ini juga dimunculkan pada Ragam gerak pada tari Abung Siwo Mego yaitu Igol, Ngelap dan Ngiyau Bias. Tabuh tari yang digunakan sebagai ungkapan bahwa ada sebuah tarian yang ditarikan dari Penyimbang Adat. Pola lantai pada tari Abung Siwo Mego memiliki makna yaitu sebagai ungkapan kasih sayang dan perlindungan kepada saudara perempuan. Kawai Balak dan Kopiah Gaccak merupakan tata busana yang digunakan memiliki makna sebagai bentuk kebesaran seorang Suttan dalam adat, serta pengggunaan Siger dan Tanggai bagi perwakilan Kebuayan Nuban memiliki makna yaitu bahwa adanya garis keturunan perempuan yang hadir dalam tari tersebut. Makna simbolis tari Abung Siwo Mego merupakan ungkapan bentuk penghormatan kepada kaum perempuan dari keturunan Abung Siwo Mego terhadap Putri Nuban (Devi Anggriani,2022). Dari beberapa pendapat diatas jelaslah bahwa Festival Putri Nuban bermula dari keingginan sang Pesirah/ Suttan yang mengagungkan perempuan kasih sayang terhadap perempuan dan perlindungan kepada perempuan dan wujud kecintaan seorang tua kepada anaknya.

Tari Abung Siwo Mego merupakan Tari penghormatan dari garis keturunan delapan saudara laki laki putri Nuban, sedangkan Tari Anak Ratu Dipuncak merupakan ungkapan penghormatan untuk keturunan Putri Nuban dari ketiga saudara laki lakinya karena Nuban adalah perempuan satu satunya dari empat bersaudara anak Ratu Dipuncak. Cangget akan diawali oleh tari yangdilakukan oleh gadis-gadis dari kelompok kekerabatan laki-laki, dan akan diakhiri oleh seorang laki-laki dari kelompok Buay Nuban. Saat ia menari,ia akan didampingi Penyimbang wakil dari Buay Nunyai, Buay Unyi, dan Buay Subing dengan menari igol. (Martiara, 2019).

Cangget Igol Penyimbang adalah satu-satunya cangget yang dilakukan oleh laki-laki dan hanya berlaku pada Buay Nuban Lampung Timur. Cangget igol penyimbang ini merupakan ungkapan penghormatan untuk keturunan Buay Nuban dari ketiga adik-adiknya karena Nuban adalah perempuan. Inilah bentuk kecintaan kakak kakak laki lakinya terhadap satu adik perempuan(Nuban).

Dalam Festival Putri Nuban biasanya tidak pernah terlepaskan dari kegiatan Tari Cangget biasanya dipertunjukan saat menyambut tamu agung, upacara pernikahan, dan pesta adat di Provinsi Lampung. Tarian ini mencerminkan kewibawaan gadis Lampung yang anggun. Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tari Cangget terdiri dari beberapa macam, yaitu: a. Cengget Nyambuk Temui, tarian yang      dibawakan pemuda dan pemudi dalam upacara menyambut tamu agung yang berkunjung. b. Cangget Bakha, tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat bulan purnama atau selesai panen. c. Cangget Penganggik, tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat menerma anggota baru (dari anak-anak ke dewasa).  d. Cangget Pilangan, tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudia daat mereka melepas anggota keluarga yang akan menikah. e. Cangget Agung, tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat ada upacara adat pengangkatan seseorang menjadi Kepala Adat.

6.     Metro dan Festival Budaya

Festival Putri Nuban mulai diperkenalkan pada tahun 2013, saat Kota Metro genap berusia 76 tahun yang biasanya diselenggarakan pada tanggal 9 Juni atau dahulu dikenal dengan sebutan Metro Fair. Penamaan Nuban sendiri berasal dari nama marga atau keresidenan yang termasuk Sukadana yang memberikan sebagian tanahnya kepada Kolonis pada masa penjajahan, mengingat kerendahan hati kebuayan Nuban kepada Kolonis yang datang ke daerah ini. (Metropolis.co.id).

Festival Tahunan ini berupaya menghidupkan kembali kecintaan generasi muda tentang sejarah dan kebudayaan Lampung yang biasanya diadakan tarian kolosal Sebuai yang menggambarkan putri nuban dan mencerminkan 9 kebuayan Siwo Mego.

Festival Putri Nuban sendiri bermakna bahwa berdirinya Kota Metro tidak bisa dilepaskan dari penyerahan tanah ulayat Buy Nuban dan saat ini Metro telah    berkembang menjadi kota modern. Modernisasi yang telah berlangsung saat ini diikuti dengan berbagai kemajuan mutakhir dan teknologi memudahkan masuknya budaya asing ke Indonesia dan di Metro pada khususnya. Disinilah ada rasa kekhawatiran dari para tetua dan pejabat pemerintah akan berdampak menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal yang ada.

Semua unsur harus tetap bergerak untuk melestarikan budaya Lampung, baik unsur pemerintahan, Dewan Perwakilan Rakyat, Pelaku Usaha dan masyarakat luas pada umumnya, menurut Sahabudin Yusuf  sebagai ketua Majelis Penyeimbang Adat Lampung (MPAL)menyebutkan bahwa Hukum adat Lampung itu punya asas yaitu harus dilakukan secara turun temurun karena generasi muda itulah yang nantinya akan meneruskan dan pengetahuan tentang adat Lampung itulah yang menjadi dasar karena pada kebudayaan Lampung itu sendiri sangat kental dengan keberagaman (kupastuntas.co.id).

Untuk menjaga kelestarian budaya dan keragaman budaya bagi warga masyarakat Metro pengembangan kebudayaan yang akan berikan antara lain pembinaan dan pengembangan SDM, pengadaan alat kesenian sampai panggung kegiatan, dan event kebudayaan. Seperti halnya dengan event pentas budaya dan Festival Putri Nuban akan terus digalakan untuk selalu menumbuhkan kecintaan masyarakat Metro sesuai dengan  visi kota Metro dalam pengembangan kebudayaan tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kota Metro periode 2021-2024 yaitu Terwujudnya Kota Metro Berpendidikan, Sehat, Sejahtera dan Berbudaya.(Wahdi Sirajudin, Walikota Metro).

Generasi muda tidak menyadari bahwa keanekaragaman budaya daerah merupakan investasi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra bangsa Indonesia yang bersatu, beragam budaya sebagai representasi masyarakat multicultural, semua itu jika kita telusuri dan kita kenali ada pada kota kecil nan elok yang bernama Metro. Tereliminasinya identitas daerah di kandangnya sendiri dan terlupakan oleh para pewarisnya semakin mengkhawatirkan hilangnya nilai-nilai Piil Pesenggiri dalam kehidupan masyarakat Lampung. pergeseran demografis ini berkontribusi untuk perubahan sosial yang cepat terjadi di masyarakat. Faktanya banyak ditemukan para remaja yang kurang peduli, peduli akan budayanya, peduli akan kearifan lokalnya, misalkan tidak mau ikut dalam kegiatan pelestarian budaya setidaknya tidak merusak dan mencemooh budaya itu berkembang. (Hassane dan Abdullah Dalam George, 2019, hlm. 9).

Fenomena tersebut sangat mengkhawatirkan, perlahan nilai-nilai tersebut akan hilang ditelan zaman, dan hanya menjadi cerita sejarah. Slogan“aku cinta produk lokal. aku cinta buatan Indonesia” sepertinya hanya menjadi ucapan belaka, tanpa ada aplikasi nyata yang mendukung pernyataan tersebut. Untuk mengantisipasi memudarnya nilai-nilai Piil Pesenggiri dalam kehidupan masyarakat Lampung. Maka masyarakat Provinsi Lampung khususnya Kota Metro berupaya mengaktualisasikan nilai-nilai kearifan lokal Piil Pesenggiri dalam penyelenggaraan Festival

Budaya Putri Nuban yang dikemas menjadi sebuah pagelaran seni budaya yang kekinian sehingga menjadi daya Tarik para generasi muda untuk ikut terlibat didalamnya. Festival Budaya Putri Nuban diselenggarakan dalam rangka menumbuhkan kecintaan generasi muda akan pentingnya pengembangan budaya Lampung dan budaya lokal lainnya yang hidup di Kota Metro.

Festival ini sebagai ajang untuk menciptakan hubungan persaudaraan dengan baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dalam berbangsa dan bernegara, sekaligus untuk melestarikan tradisi dan kearifan lokal masyarakat adat Lampung pepadun agar menjadi falsafah hidup masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman adat istiadat di Provinsi Lampung. Festival Putri Nuban merupakan pagelaran budaya tahunan yang digelar bersamaan dengan hari jadi Kota Metro.

Kota metro merupakan salah satu kota yang masyarakatnya beradat Pepadun. Secara garis besar masyarakat adat Lampung dapat dibedakan kepada dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat Lampung beradat masyarakat Lampung beradat Saibatin yang populer denganberadat Saibatin yang populer dengan sebutan Lampung Pesisir. Selaras dengan Kota Metro sedang melakukan pembenahan dan pengembangan kota yang lebih maju menuju visi dan misinya sebagai kota pendidikan dan wisata keluarga di Provinsi Lampung dengan memperbaiki sektor pendidikan, keamanan, kebersihan serta meningkatkan fasilitas publik, dan pengoptimalan ruang terbuka hijau. Maka Festifal Budaya Putri Nuban diselenggarakan guna menarik wisatawan dan para generasi muda untuk mensosialisasikan nilai-nilai Piil Pesenggiri bagi masyarakat Kota Metro dan sekitarnya.

Festival Budaya Putri Nuban tersebut diadakan oleh Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro yang bekerjasama dengan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kota Metro. Festival ini mampu menjadi salah satu event yang menjadi keunggulan dan daya tarik Kota Metro, yang kedepannya dapat diperkenalkan baik di tingkat lokal, regional maupun di tingkat nasional.

7.   Piil Pesenggiri dan FestivalPutri Nuban

Perlu kita sama sama menyadari bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan bahasa. Karakterisitik tersebut terwujud dari suasana kehidupan masyarakat yang harmonis karena terbangunnya toleransi yang saling menghargai, berciri gotong royong, memperlihatkan karakter sehingga membentuk identitas dalam suatu suku tertentu. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Santoso (2006, hlm. 44) yang menegaskan Identitas mengacu pada karakter khusus individu atau anggota suatu kelompok atau kategori sosial tertentu. Karakter ini masing masing daerah pasti memiliki perbedaan dan penerapannya, Salah satunya ditampilkan dalam falsafah hidup yang diwariskan secara turun termurun melalui sastra lisan maupun tulisan (manuskrip).Salah satu falsafah hidup yang ada di dalam kelompok masyarakat di Indonesia adalah falsafah hidup yang berada di Provinsi Lampung dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri. Falsafah hidup tersebut dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri. Setiap unsur dari piil pesenggiri ini terus diperkenalkan dan juga disosialisasikan kepada masyarakat Lampung untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari- harinya, karena selama ini seolah olah generasi muda mulai meninggalkan hal itu bahkan lebih mirisnya lagi mereka tidak lagi mengenal dan menganggap hal itu suatu budaya yang telah usang (Lintje, 2013, dalam Martiara  hlm. 124).

Piil pesenggiri adalah salah satu kearifan lokal yang berasal dari daerah Lampung. Piil pesenggiri ini merupakan falsafah hidup bagi orang Lampung. Dengan kata lain, piil pesenggiri merupakan nilai dan norma yang mengatur tata hidup masyarakat Lampung sebagai makhluk sosial. Piil pesenggiri mengandung nilai-nilai dan norma yang mengatur tata hidup masyarakat Lampung, seperti kehormatan, harga diri, kesucian, prestise, kemuliaan dan keagungan. Piil pesenggiri terdiri dari lima unsur utama, yaitu bejuluk beadek, nemui nyimah, nengah nyampur, sakai sambayan dan titi gemati.

Falsafah hidup ini merupakan acuan masyarakat Lampung untuk selalu bersikap terbuka dan memiliki rasa solidaritas yang tinggi. baik dengan sesama kelompok maupun dengan masyarakat lainnya. Kalau kita cermati masing masing dialek dan aksen bahasa yang tebal dan kental mungkin akan sangat berbeda dengan kultur masyarakat Jawa yang ada di Metro, tetapi dengan pembauran dan keterbukaan dengan semakin meningkatkan solidaritasnya hal ini tidak menjadi masalah. Dalam praktek pergaulan kemasyarakatan sehari-hari keadaan ini senantiasa didukung oleh eksistensi aksara dan bahasa Lampung sebagai alat komunikasi yang relative efektif, karena didasari oleh nilai-nilai moral dan keimanan yang cukup tinggi, khususnya agama Islam.

Seiring dengan derasnya arus globalisasi, modernisasi dan ketatnya puritanisme di khawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya rasa kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada Piil Pesenggiri masyarakat Lampung.  Dalam pergaulan di masyarakat sekarang pemuda atau remaja beranggapan melestarikan nilai-nilai budaya Lampung tidak begitu penting, karena dianggap kuno, dan kurangnya sosialisasi dari pemangku adat mengenai Piil Pesenggiri. Menjadi alasan mereka semakin meninggalkan prinsip hidup yang seharusnya dilestarikan dan dimiliki oleh masyarakatLampung. Generasi muda tidak menyadari bahwa keanekaragaman budaya daerah merupakan investasi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra bangsa Indonesia yang bersatu, beragam budaya sebagai representasi masyarakatmultikultural. (Azmi 2016, hl. 4).

Dalam upaya mengantisipasi memudarnya nilai nilai budaya masyarakat Lampung, Kota Metro sejak tahun 2013 telah menyadari perlunya penyelamatan budaya dan kearifan lokal dalam upaya pengaktualisasian nilai Piil Pesenggiri dengan mencoba menggalakkan Festival Putri Nuban. yang dikemas menjadi sebuah pagelaran seni budaya yang kekinian sehingga menjadi daya Tarik para generasi muda untuk ikut terlibat di dalamnya. Festifal Budaya Putri Nuban diselenggarakan dalam rangka menumbuhkan kecintaan generasi muda akan pentingnya pengembangan budaya Lampung dan budaya lokal lainnya yang hidup di Kota Metro. Berfungsi sebagai sarana hiburan dan bingkai persatuan antarsesama warga Kota Metro yang terdiri dari beragam suku. Festival ini sebagai ajang untuk menciptakan hubungan persaudaraan dengan baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dalam berbangsa dan bernegara, sekaligus untuk melestarikan tradisi dan kearifan lokal masyarakat adat Lampung pepadun agar menjadi falsafah hidup masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman adat istiadat di Provinsi Lampung.

Kini kegiatan ini menjadi sebuah festival budaya yang dikemas dalam bentuk hiburan bagi masyarakat dan berupaya untuk menumbuhkan kecintaan Masyarakat akan budayanya.  Festifal Putri Nuban  kini menjadi agenda tahunan merupakan pagelaran budaya tahunan yang digelar bersamaan dengan hari jadi Kota Metro. Kota Metro merupakan salah satu kota yang masyarakatnya beradat Pepadun. Selaras dengan Kota Metro yang terus berbenah terusu berkembang  melakukan perbaikan dan pengembangan kota yang lebih maju menuju visi dan misinya sebagai kota pendidikan dan wisata keluarga di Provinsi Lampung dengan memperbaiki sektor pendidikan, keamanan, kebersihan serta meningkatkan fasilitas publik, dan pengoptimalan ruang terbuka hijau. Maka Festifal Budaya Putri Nuban diselenggarakan guna menarik wisatawan dan para generasi muda untuk mensosialisasikan nilai-nilai Piil Pesenggiri bagi masyarakat Kota Metro dan sekitarnya.

Fenomena perkembangan zaman mengakibatkan generasi muda merubah orientasi hidupnya, sehingga kurang bisa menghargai budaya Indonesia, khususnya nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam yaitu piil pesenggiri. Piil Pesenggiri merupakan harga diri yang berkaitan dengan perasaan kompetensi dan nilai pribadi, atau merupakan perpaduan antara kepercayaan dan penghormatan diri. Seseorang yang memiliki Piil Pesenggiri yang kuat, berarti mempunyai perasaan penuh keyakinan, penuh tanggungjawab, kompeten dan sanggup mengatasi masalah-masalah kehidupan. Etos dan semangat kelampungan (spirit of Lampung) piil pesenggiri itu mendorong orang untuk bekerja keras, kreatif, cermat,dan teliti, orientasi pada  prestasi, berani kompetisi dan pantang menyerah atas tantangan yang muncul. Semua karena mempertaruhkan harga diri dan martabat seseorang untuk sesuatu yang mulya di tengah-tengah masyarakat. Piil pesenggiri mendorong masyarakat Lampung menjadi lebih kritis dalam berencana penuh dengan pertimbangan dalam rangka usaha untuk tetap berjuang terus demi kemajuan.

Sehingga generasi muda dengan segala problematika yang terjadi dalam masyarakat pemerintah berharap penyelenggaraan festival budaya putri Nuban dapat memotivasi mereka untuk paham akan tradisi masyarakat Lampung dan mulai memperlajari serta menanamkan nilai-nilai Piil pesenggiri dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan berdasarkanm perasaan penuh keyakinan, penuh tanggungjawab, kompeten, sanggup mengatasi masalah-masalah kehidupan, Terdorong untuk bekerja keras, kreatif, cermat, dan teliti, orientasi pada prestasi, berani kompetisi dan pantang menyerah atas tantangan yang ada.

8.     Festival Putri Nuban dan Upaya Pelestarian budaya Kearifan Lokal

Pelestarian suatu budaya untuk dikenalkan pada generasi muda merupakan sebagai ikhtiar dalam membuat kebudayaan agar tetap eksis dan disenangi dan merasa menjadi bagian dari budaya tersebut pada generasi muda, perencanaan pelestarian yang terarah dan terpadu menjadi strategi efektif, dalam mengadaptasikan kebudayaan terkait, dengan fenomena perkembangan zaman, yang dilakukan melalui memanfaatkan teknologi tanpa merusak esensi dari kebudayaan itu sendiri. Pelestarian budaya perlu dilakukan, dengan bentuk kolaborasi dengan semua pihak, karena berdampak langsung pada identitas bangsa, tentu kita tidak berharap generasi muda Indonesia suatu saat memiliki masalah yang berkaitan dengan krisis identitas, yang pada akhirnya membuat bangsa ini tidak memiliki ketahanan nasional yang kuat. Pelestarian budaya  sebagai kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, terencana dan sadar, guna mewujudkan tujuan tertentu, yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes dan selektif.(Wijaya, Dalam Ranjabar, 2006).

Pelestarian budaya harus muncul dari kita sendiri sebagai orang Lampung siempunya pemegang budaya Piil Pesinggiri juga harus menjadi kunci pokok dalam upaya pembudayaan nilai-nilai Piil Pesinggiri, terutama membudayakan dari sejak dini kepada anak-anak atau generasi penerus bagi orang Lampung. Serta upaya Tokoh Adat juga, harus lebih eksis untuk memberikan sosialisai kepada masyarakat tentang makna nilai-nilai budaya Piil Pesinggiri.

Mengoptimalkan Peran Media Untuk Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Piil Pesenggiri Dalam Penyelenggaraan Festifal Budaya Putri Nuban Pada Masyarakat Pepadun. Karena melalui media kita bisa menyampaikan berbagai berita yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan budaya untuk pelestarian kearifan lokal Piil Pesinggiri tersebut. Melalui pemanfaatan media dalam mempromosikan Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Penyelenggaraan Festifal Budaya Putri Nuban diharapkan dapat memberikan informasi dan pembelajaran bagi generasi muda dalam mengenal tradisi di daerahnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemunculan media massa seperti televise yang menawarkan kelimpahan materi melalui berbagai iklan dan film, sangat berpengaruh pada pergeseran cara pandang dan minat masyarakat pada seni tradisional. pada umumnya generasi muda dianggap sebagai (individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur budaya asing yang masuk melalui akulturasi. Sehingga media massa akan memberikan kontribusi yang besar dalam memperkenalkan budaya tersebut secara efektif ke masyarakat khususnya generasi muda Kota Metro. (Masunah dan Uus Karwati (Dalam Nahak, 2019, hlm. 71).

Perlunya Peran Perlindungan Hukum Yang Efektif Dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Piil Pesenggiri Dalam Penyelenggaraan Festival Budaya Putri Nuban Pada Masyarakat Pepadun. Termaktub jelas pada Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 yang menjelaskan mengenai pelestarian budaya, dasar hukum tersebut menegaskan bahwa negara menjamin, menghormati, dan memelihara kebudayaan bangsa. Selain itu dalam Undang-undang No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan lahir dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia. Dalam undang-undang tersebut jelas peran pemerintah sebagai mitra dan pengawas masyarakat dalam melestarikan kearifan lokalnya. Pemerintah perlu meningkatkan upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya sebagai sarana rekreasi, edukasi dan pengembangan kebudayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Warisan budaya harus dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan rekreasi yang dapat mengilhami berkembangnya industri budaya yang memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan. Perlu usaha bersama yang bersifat “kolaborasi” dalam meningkatkan pelestarian kebudayaan khususnya di Kota Metro, meningkatkan kemampuan pengelolaan informasi dengan memanfaatkan internet sebagai ajang promosi dan pemasaran.    Semakin banyak orang yang bergerak di bidang pelestarian Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang terdapat dalam Piil Pesenggiri akan memperbesar peluang, berkembangnya penggunaan falsafah hidup dikalangan masyarakat khususnya generasi muda. Akibat keterbatasnya dukungan peraturan perundangan mengenai kebudayaan membuat masyarakat berada dalam dilematika diantara derasnya budaya luar dan semakin terkisisnya

budaya lokal. Sehingga perlu Pemanfaatan Teknologi Dan Informasi Dalam Meningkatkan Eksistensi Nilai- Nilai Kearifan Lokal yang terdapat dalam Piil Pesenggiri yang terkemas dalam penyelenggaraan festifal budaya putri nuban.

Dalam rangka mempermudah dan mengefektifkan pembelajaran. Fenomena tersebut perlu dimanfaatkan, dengan cara memperkenalkan kebudayaan dan kearifan lokal bagsa melalui teknologi informasi, agar memudahkan generasi muda untuk mempelajari budayanya dengan baik. Sehingga akan memunculkan rasa kecintaan untuk terus, khususnya dalam upaya Eksistensi Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang terdapat dalam Piil Pesenggiri yang terkemas dalam penyelenggaraan festifal budaya putri nuban. Pemerintah harus memberikan informasi yang masif, akurat dan akuntabilitas

berimbang mengenai budaya melalui media nasional. Para tokoh adat harus bersinergi terhadap pengenalan Piil Pesenggiri. Mengubah metode pengenalan yang lebih diterima para kaum muda. Pemanfaatan teknologi informasi diharapkan dapat menarik simpati masyarakat khususnya di Kota Metro dalam melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Piil Pesenggiri Dalam Penyelenggaraan Festival Budaya Putri Nuban Pada Masyarakat Pepadun.

 

DAFTAR PUSTAKA

Algemeen Handelsblad, 1935. Nieuwe   Amsterdamsche Courant. Amsterdamshe, Dutch.

Dwi Anggraeni, 2022. Kepemimpinan Spiritual. Salemba empat. Jakarta.

Hilman Hadikusuma, 1992 Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia CV. Mondar Maju. Bandar Lampung.

Indisch Courant, De depreciatie van het Nederlandsch-Bulettin Between People and Statistics 1936.

Kian Amboro 2019. Onderafdeling Sukadana. Beranda desa.com

Martiara, Rina. 2019. Cangget, Identitas kultural Lampung sebagai bagian  keragaman budaya Indonesia. Badan Penerbit ISI Jogjakarta.

 Martiara, Lince 2013. Nilai dan norma budaya   lampung ditinjau dari sudut pandang struturalisme. Badan Penerbit ISI. Jogjakarta.

Rahyono 2009. Kearifan budaya dalam Kata. Penerbit. Wedatama widya sastra. Jakarta.

Rookmaker 1937. De Javanen kolonisatie in de. Lampongsche Districten” dalam Koloniale Studien. Amsterdamshe. Dutch

Santoso 2006. Dinamika Kelompok, Bumi Aksara. Surabaya

Soebarijasch Handelsblad, 1938 implementatie van ethisch politiek beleid in de irrigatiesector tijdens de kolonisatie van Sukadana Koloniale Studien. Amsterdamshe. Dutch

Syamsu, 1965. Hukum mengangkat anak dalam perspektif Islam. Rajawali pers. Jakarta.

 

Artikel

Ahmad Muzaki. Tumbai.com. 2022 Metro sebuah Kajian etnografi, menemukenali geneologi kota Metro.

Rizani Puspanegara, atiansya. Fahrudin .blogspot. 2022 Piil Pesenggiri adalah falsafah daerah yang modern.

Metropolis.com Festival Putri Nuban 2023 hadirkan kampung literasi.

Kupastuntas.com.2018 Jangan ada bahasalain dalam Festifal Putri Nuban.

https://eprint-ummetro.ac.id

https://dprdmetrokota.go id_sejarah_kota_metro_html


MGMP Sejarah Lampung Timur Berpartisipasi dalam Kegiatan Bakti Sosial di Makam R. Soekarso

  Kegiatan bakti sosial dengan melakukan pemasangan papan informasi sejarah serta pembersihan makam R. Soekarso dilakukan oleh sejumlah komu...