Oleh: Uswatun Khasanah, S.Pd.
Secara geografis, memang Lampung dan Banten dipisahkan oleh
Selat Sunda. Namun, walaupun terpisahkan laut kedua masyarakat ini dapat
berhubungan dengan erat. Hubungan
keduanya cukup dekat, baik secara politik maupun budaya. Salah satu bukti
adanya Lawang Kuri. Lawang Kuri adalah pintu gerbang kerajaan adat di
lingkungan masyarakat adat pepadun. Terbuat dari kayu jati yang berupa pintu
dengan dua daun pintu yang bermotif flora serta bentuk yang geometris dan motif
hias pada
pintu ini berupa sulur-suluran yang dipahatkan hamper diseluruh permukaan
pintu. Pada kusen pintu bagian samping atas terdapat ragam hias konstruktif
berbentuk sayap burung, simetris di kedua daun pintu. Ukuran keseluruhan pintu
adalah lebar 210 cm dan tinggi 252 cm. Adapun masing-masing daun pintu
berukuran lebar 50 cm dan tinggi 175 cm.
Masyarakat Lampung memiliki banyak aneka ragam budaya yang
saat ini masih dipertahankan untuk upacara-upacara adat. Menurut informasi dari
juru pelihara, Lawang Kuri ini berasal dari Kesultanan Banten, sebagai simbol
terjalinnya hubungan antara Banten dengan Lampung. Hubungan Lampung dan Banten
sudah berlangsung dalam periode yang panjang. Prasati berhuruf Arab yang
ditemukan di Lampung, menunjukkan kuatnya pengaruh Banten ketika terjadi
penyebaran agama Islam di wilayah Lampung. Dalam tradisi lisan, disebutkan
bahwa sebelum letusan Gunung Krakatau memisahkan daratan Sumatera dan Jawa,
sudah terjadi interaksi antara kedua wilayah tersebut.
Terdapat berita yang menyebutkan tentang Lawang Kuri
terdapat dalam surat kontrolir Teluk Betung tahun 1883 Disebutkan bahwa
atribut-atribut yang diberikan Sultan Banten kepada para pemimpin adat antara
lain adalah siger, slenggam dalem, pangga, burung
garuda, jempana, rato, penduk wo belas, sabuk jaran, payung hendak, payung gubir, payung agung, payung hitam, tumbak gegeakan merak, mendaringan, dader, tombak bercabang, kandang rarang, jimat agung, pencarengan, lawang kuri, peninjauan, kupiah, ngarih kulikat, jajalan putri, pepadon, pelita empat, dan pancah aji. Dalam mengendalikan kekuasaannya di
Lampung, Banten hanya menempatkan jenjen. Jenjen tidak memiliki hak untuk menyelenggarakan
pemerintahan, ia hanya bertugas dalam mengelola penerimaan lada dari Lampung
kemudian mendistribusikannya ke bandar Banten.
Lawang Kuri, cideramata dari Kerajaan Banten ini berlokasi
di Kampung
Gedung Wani, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur. Lawung kuri merupakan hadiah
yang diberikan oleh Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati orang juga
menyebutnya sebagai Fatahillah atau Falathehan. Syarif Hidayatulloh datang
pertama kali di Lampung yaitu di Keratuan Pugung. Keratuan Pugung berada di
wilayah timur yang merupakan sebuah kerajaan kecil yang makmur, aman atau
sekarang ini dikenal dengan sebutan Pugung Raharjo, Lampung Timur. Keratuan
Pugung di pimpin oleh Seorang Raja (dipanggil dengan sebutan Khatu atau Ratu)
bernama Ratu Galuh yang kala itu menganut agama Hindu.
Kedatangan
Sunan Gunung Jati di kerajaan tersebut, karena ia melihat adanya sinar (kilat)
yang memancar tegak menembus langit dan juga untuk menyebarkan ajaran Islam.
Pada saat Syarif Hidayatulloh tiba di Keratuan Pugung mulai sejak saat itulah,
Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati tertambat hatinya dengan seorang
Putri dari Keratuan Pugung bernama Putri Sinar Alam. Dari pernikahan dengan
Putri Sinar Alam Syarif Hidayatulloh di anugerahkan seorang anak laki-laki yang
diberi nama Minak Gejala Ratu. Namun pada saat Putri Sinar Alam mengandung
hingga melahirkan Syarif Hidayatulloh tidak berada di Keratuan Pugung
dikarenakan kembali lagi ke Sultanan Banten.
Pada
saat itu Lampung berada di antara dua kekuatan besar yakni Palembang dan
Banten. Palembang yang merupakan tempat pemasaran Lada yang berasal dari
Lampung, Jambi dan Bangka. Palembang diduga akan memperluas pasokan Lada hingga
ke Tulang Bawang dan apabila Lampung jatuh ke tangan Palembang maka Banten akan
mengalami kerugian besar sebab Banten akan kehilangan sumber Lada terpenting
untuk pasar Eropa.
Lampung
merupakan salah satu penghasil lada terbesar pada saat itu sedangkan Banten
merupakan bandar lada internasional. Bahkan lada disebut sebagai emas hitam
dalam catatan Belanda. Banten yang tumbuh sebagai kota perdagangan mengalami
kemajuan pesat pasca jatuhnya Malaka ke tangan Portugis serta mempunyai
pengaruh yang penting dalam perkembangan kesultanan Banten.
Hubungan
Banten dengan Lampung dibentuk oleh perjalanan sejarah saudara kandung yang
saling melengkapi dan mendukung. Pada masa kesultanan Banten Sultan Ageng
Tirtayasa hubungan masyarakat Banten dengan Lampung pernah di uji yaitu ketika
Sultan Ageng Tirtayasa terlibat perang saudara dengan anak kandungnya sendiri
Sultan Haji yang didukung oleh Belanda. Walaupun Sultan Ageng Tirtayasa
mengalami kekalahan dan harus menyerahkan Lampung sebagai imbalan untuk VOC
yang telat membantu Sultan Haji, tetapi hubungan pendudukn Lampung dengan
Banten masih tetap istimewa. Terdapat piagam tembaga yang telah ditemukan di
kediaman kerabat Raden Intan di Kampung Kuripan yang membuktikan permulaan
masuknya pengaruh Banten di Lampung.
Dari
sejarah hubungan antara Banten dan Lampung yang menghasilkan salah satu
peninggalannya yaitu Lawang kuri yang dapat kita ambil hikmahnya adalah rasa
persahabatan, tanggung jawab, musyawarah mufakat, kebersamaan, tolong-menolong
dan nilai-nilai dalam masyarakat lainnya sudah cukup diabaikan di masa seperti
sekarang ini. Apalagi di era modern seperti ini yang dimana komunikasi sudah
bisa dilakukan dengan sangat mudah yang dapat menjadi alat untuk kita selalu
erat, rukun serta mempererat rasa persaudaraan dan tidak boleh memengaruhi
kesadaran kita untuk terus mempelajari sejarah. Kita sebagai generasi muda
sangat perlu menengok ke sejarah Lampaung guna mempelajari dan menerapkan
kembali nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sudah
sepatutnya kita mencontoh makna di balik sejarah Lawang Kuri tersebut.
Mengingat rasa persahabatan, tanggung jawab, musyawarah mufakat, kebersamaan,
tolong-menolong dan nilai-nilai dalam masyarakat lainnya sudah cukup diabaikan
di masa seperti sekarang ini. Mungkin kita tidak mengetahui sampai kapankah
pandemi ini akan berakhir, namun hal itu tidak boleh memengaruhi kesadaran kita
untuk terus mempelajari sejarah. Kita sebagai generasi muda sangat perlu
menengok ke sejarah lampau guna mempelajari dan menerapkan kembali nilai-nilai
kehidupan dalam masyarakat di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Masyarakat Lampung terkenal dengan piil pesenggiri pedoman
hidup atau pandangan hidup masyakat Lampung. Salah satunya yaitu Nengah-Nyappur
yang menggambarkan
bahwa anggota masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung
dengan sikap suka bergaul dan bersahabat dengan siapa saja, tidak membedakan
suku, agama, tingkatan, asal usul dan golongan. Seperti pada saat Sultan
Banten datang ke daerah Lampung, masyarakat Lampung menerima dengan baik dan
dengan senang hati menerima kedatangannya.