Sabtu, 19 Oktober 2024

Lawang Kuri: Simbol Persahabatan Masyarakat Lampung dengan Banten

 Oleh: Uswatun Khasanah, S.Pd.

 

Secara geografis, memang Lampung dan Banten dipisahkan oleh Selat Sunda. Namun, walaupun terpisahkan laut kedua masyarakat ini dapat berhubungan dengan erat.  Hubungan keduanya cukup dekat, baik secara politik maupun budaya. Salah satu bukti adanya Lawang Kuri. Lawang Kuri adalah pintu gerbang kerajaan adat di lingkungan masyarakat adat pepadun. Terbuat dari kayu jati yang berupa pintu dengan dua daun pintu yang bermotif flora serta bentuk yang geometris dan motif hias pada pintu ini berupa sulur-suluran yang dipahatkan hamper diseluruh permukaan pintu. Pada kusen pintu bagian samping atas terdapat ragam hias konstruktif berbentuk sayap burung, simetris di kedua daun pintu. Ukuran keseluruhan pintu adalah lebar 210 cm dan tinggi 252 cm. Adapun masing-masing daun pintu berukuran lebar 50 cm dan tinggi 175 cm.

Masyarakat Lampung memiliki banyak aneka ragam budaya yang saat ini masih dipertahankan untuk upacara-upacara adat. Menurut informasi dari juru pelihara, Lawang Kuri ini berasal dari Kesultanan Banten, sebagai simbol terjalinnya hubungan antara Banten dengan Lampung. Hubungan Lampung dan Banten sudah berlangsung dalam periode yang panjang. Prasati berhuruf Arab yang ditemukan di Lampung, menunjukkan kuatnya pengaruh Banten ketika terjadi penyebaran agama Islam di wilayah Lampung. Dalam tradisi lisan, disebutkan bahwa sebelum letusan Gunung Krakatau memisahkan daratan Sumatera dan Jawa, sudah terjadi interaksi antara kedua wilayah tersebut.

Terdapat berita yang menyebutkan tentang Lawang Kuri terdapat dalam surat kontrolir Teluk Betung tahun 1883 Disebutkan bahwa atribut-atribut yang diberikan Sultan Banten kepada para pemimpin adat antara lain adalah sigerslenggam dalempangga, burung garudajempanaratopenduk wo belassabuk jaranpayung hendakpayung gubir, payung agung, payung hitam, tumbak gegeakan merakmendaringandader, tombak bercabang, kandang rarang, jimat agung, pencarenganlawang kuripeninjauankupiahngarih kulikatjajalan putripepadon, pelita empat, dan pancah aji.  Dalam mengendalikan kekuasaannya di Lampung, Banten hanya menempatkan jenjen.  Jenjen tidak memiliki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan, ia hanya bertugas dalam mengelola penerimaan lada dari Lampung kemudian mendistribusikannya ke bandar Banten.

Lawang Kuri, cideramata dari Kerajaan Banten ini berlokasi di Kampung Gedung Wani, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur. Lawung kuri merupakan hadiah yang diberikan oleh Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati orang juga menyebutnya sebagai Fatahillah atau Falathehan. Syarif Hidayatulloh datang pertama kali di Lampung yaitu di Keratuan Pugung. Keratuan Pugung berada di wilayah timur yang merupakan sebuah kerajaan kecil yang makmur, aman atau sekarang ini dikenal dengan sebutan Pugung Raharjo, Lampung Timur. Keratuan Pugung di pimpin oleh Seorang Raja (dipanggil dengan sebutan Khatu atau Ratu) bernama Ratu Galuh yang kala itu menganut agama Hindu.

Kedatangan Sunan Gunung Jati di kerajaan tersebut, karena ia melihat adanya sinar (kilat) yang memancar tegak menembus langit dan juga untuk menyebarkan ajaran Islam. Pada saat Syarif Hidayatulloh tiba di Keratuan Pugung mulai sejak saat itulah, Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati tertambat hatinya dengan seorang Putri dari Keratuan Pugung bernama Putri Sinar Alam. Dari pernikahan dengan Putri Sinar Alam Syarif Hidayatulloh di anugerahkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Minak Gejala Ratu. Namun pada saat Putri Sinar Alam mengandung hingga melahirkan Syarif Hidayatulloh tidak berada di Keratuan Pugung dikarenakan kembali lagi ke Sultanan Banten.

Pada saat itu Lampung berada di antara dua kekuatan besar yakni Palembang dan Banten. Palembang yang merupakan tempat pemasaran Lada yang berasal dari Lampung, Jambi dan Bangka. Palembang diduga akan memperluas pasokan Lada hingga ke Tulang Bawang dan apabila Lampung jatuh ke tangan Palembang maka Banten akan mengalami kerugian besar sebab Banten akan kehilangan sumber Lada terpenting untuk pasar Eropa.

Lampung merupakan salah satu penghasil lada terbesar pada saat itu sedangkan Banten merupakan bandar lada internasional. Bahkan lada disebut sebagai emas hitam dalam catatan Belanda. Banten yang tumbuh sebagai kota perdagangan mengalami kemajuan pesat pasca jatuhnya Malaka ke tangan Portugis serta mempunyai pengaruh yang penting dalam perkembangan kesultanan Banten.

Hubungan Banten dengan Lampung dibentuk oleh perjalanan sejarah saudara kandung yang saling melengkapi dan mendukung. Pada masa kesultanan Banten Sultan Ageng Tirtayasa hubungan masyarakat Banten dengan Lampung pernah di uji yaitu ketika Sultan Ageng Tirtayasa terlibat perang saudara dengan anak kandungnya sendiri Sultan Haji yang didukung oleh Belanda. Walaupun Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kekalahan dan harus menyerahkan Lampung sebagai imbalan untuk VOC yang telat membantu Sultan Haji, tetapi hubungan pendudukn Lampung dengan Banten masih tetap istimewa. Terdapat piagam tembaga yang telah ditemukan di kediaman kerabat Raden Intan di Kampung Kuripan yang membuktikan permulaan masuknya pengaruh Banten di Lampung.

Dari sejarah hubungan antara Banten dan Lampung yang menghasilkan salah satu peninggalannya yaitu Lawang kuri yang dapat kita ambil hikmahnya adalah rasa persahabatan, tanggung jawab, musyawarah mufakat, kebersamaan, tolong-menolong dan nilai-nilai dalam masyarakat lainnya sudah cukup diabaikan di masa seperti sekarang ini. Apalagi di era modern seperti ini yang dimana komunikasi sudah bisa dilakukan dengan sangat mudah yang dapat menjadi alat untuk kita selalu erat, rukun serta mempererat rasa persaudaraan dan tidak boleh memengaruhi kesadaran kita untuk terus mempelajari sejarah. Kita sebagai generasi muda sangat perlu menengok ke sejarah Lampaung guna mempelajari dan menerapkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sudah sepatutnya kita mencontoh makna di balik sejarah Lawang Kuri tersebut. Mengingat rasa persahabatan, tanggung jawab, musyawarah mufakat, kebersamaan, tolong-menolong dan nilai-nilai dalam masyarakat lainnya sudah cukup diabaikan di masa seperti sekarang ini. Mungkin kita tidak mengetahui sampai kapankah pandemi ini akan berakhir, namun hal itu tidak boleh memengaruhi kesadaran kita untuk terus mempelajari sejarah. Kita sebagai generasi muda sangat perlu menengok ke sejarah lampau guna mempelajari dan menerapkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Masyarakat Lampung terkenal dengan piil pesenggiri pedoman hidup atau pandangan hidup masyakat Lampung. Salah satunya yaitu Nengah-Nyappur yang menggambarkan bahwa anggota masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung dengan sikap suka bergaul dan bersahabat dengan siapa saja, tidak membedakan suku, agama, tingkatan, asal usul dan golongan. Seperti pada saat Sultan Banten datang ke daerah Lampung, masyarakat Lampung menerima dengan baik dan dengan senang hati menerima kedatangannya.

 

MGMP Sejarah Lampung Timur Berpartisipasi dalam Kegiatan Bakti Sosial di Makam R. Soekarso

  Kegiatan bakti sosial dengan melakukan pemasangan papan informasi sejarah serta pembersihan makam R. Soekarso dilakukan oleh sejumlah komu...